//
you're reading...
Article

Menuju Revolusi Sepakbola Nasional

Nurdin Halid sudah dipastikan tidak akan menjabat sebagai Ketua PSSI lagi, posisi yang selama bertahun-tahun identik dengannya. Namun, apakah dengan bergantinya tampuk pimpinan PSSI lantas akan terjadi revolusi dalam persepakbolaan nasional menuju ke arah yang lebih baik?

Revolusi atau perubahan sudah jelas akan terjadi, paling tidak dalam struktural organisasi. Tetapi entah akan bagaimana selanjutnya nasib persepakbolaan nasional kita yang sudah telanjur carut marut ini. Dari daftar bakal calon Ketua PSSI yang belakangan muncul saja, rasa pesimistis sangat terasa. Tidak ada nama-nama seperti mantan pemain, akademisi olahraga, atau paling tidak tokoh sepakbola nasional  yang sudah familiar dengan pecinta bola Indonesia. Yang muncul justru dari kalangan pengusaha dan militer yang jelas diragukan pengetahuan dan kapasitasnya untuk memimpin badan yang awalnya dibentuk sebagai alat pemersatu bangsa ini, yang ironisnya telah dianggap skeptis oleh masyarakat dan malah membuat rakyat terpecah belah.

Terlepas dari siapa yang menjadi Ketua Umum PSSI nantinya, perubahan seharusnya dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat pecinta bola di Indonesia harus bersabar dan menerima jika persepakbolaan di negeri kita ini harus dibangun mulai dari nol lagi, karena tidak mungkin melanjutkan segala sesuatu yang telanjur salah. Mulai dari PSSI pusat hingga ke daerah-daerah, semua badan tersebut harus kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Itu baru perubahan di bidang struktural keorganisasian atau yang hasilnya tidak bersifat konkret alias masih samar-samar. Belum lagi soal sistem pembinaan pemain, pelatihan wasit, pengadaan fasilitas atau sarana sepakbola, penyelenggaraan kompetisi, dan lainnya. Semua pihak dan masyarakat harus ikut berperan dalam proses “penyembuhan” sepakbola kita ini.

Yang tak kalah penting adalah bagaimana klub, para pemain, dan supporter, sebuah trinity atau segitiga yang justru merupakan unsur  utama dan pelaku dari sepakbola itu sendiri masih belum  mengerti tentang prinsip dasar dari sepakbola. Para pelaku bola jangan hanya bisa menyerukan dengan lantang perubahan dalam tubuh PSSI tetapi perubahan itu hendaknya dimulai dari pribadi masing-masing. Tidak ada lagi tindakan tak profesional dari klub, para pemain harus saling menghormati terhadap sesama  dan juga wasit, serta suporter yang tak lagi bersikap anarkis. Jika seluruh segi dalam sepakbola ini berperan positif, niscaya revolusi yang selalu didengung-dengungkan perlahan tapi pasti akan terwujud, revolusi yang menuju ke arah positif tentunya. Semoga!

Yang menarik, setelah menelusuri kata revolusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, ditemukan 3 definisi dengan 2 contoh ikutan kata. Contoh yang pertama adalah Revolusi Industri yang memang sebuah peristiwa fenomenal dan mengubah kondisi di Eropa dan dunia saat itu. Nah, yang kedua adalah Revolusi Sepakbola yang artinya adalah perubahan radikal dalam sepakbola. Tidak percaya? Coba saja buktikan sendiri. Lalu mengapa sepakbola yang dipilih untuk dijadikan contoh? Tidak perlu sampai bertanya pada tim penyusun KBBI, tanyakan saja pada diri anda sendiri!

About binexunited

Someone obsessed and passionate of Manchester United: My first love and for forever!

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: